Rabu, 20 September 2023

Muhasabah

Muhasabah
Bukan hal yang mengherankan dalam kehidupan ini banyak orang yang bingung dengan jalan hidupnya. Bahkan orang yang banyak ilmunya pun pernah mengalaminya. Tanpa disadari hal yang demikian merupakan dampak dari ibadah kita utamanya sholat dan sejauh mana interaksi kita dengan Al Qur’an. Hendaknya kita selalu bermuhasabah, mengevaluasi ibadah kita. Dari muai apakah sudah sholat tepat waktu? Apakah sholat kita sudah khusyuk? Apakah di hari-hari kita sudah meluangkan waktu untuk membaca atau menghafal Al Quran? Apakah dari sebagian harta kita sudah rutin di sedekahkan? Adakah kita masih riba? Adakah kita masih ghibah? Apakah hubungan kita dengan tetangga baik? Apakah kita gemar berbicara hal yang tidak bermanfaat? Atau apakah kita masih sering menyia-nyiakan waktu? Saudaraku, disadari atau tidak pada hakikatnya musibah dalam hidup ini adalah karena perilaku kita yang jauh dari tuntunan Nya. Meskipun Allah telah memfirmankannya bahwa manusia itu pasti di uji, namun ujian Allah itu tidak melulu karena dampak ketakwaan kita yang semakin tinggi, bisa jadi ujian itu datang karena dosa yang sadar atau tidak sadar kita lakukan. Hal ini perlu kita sadari dan jangan sampai salah dalam menyimpulkan, karena jika ternyata yang kita kira ujian datang dari ketakwaan kita padahal bukan, dampaknya kita akan terus melakukan dosa dan kelalaian dengan sabar, wah! Bahaya bukan. Itulah yang terkadang menyebabkan ujian yang tak kunjung padam, alias ujian yang setelahnya ujian dan ujian lagi. Padahal Allah telah menjanjikan setelah kesulitan pasti ada kemudahan, setelah ujian pasti ada solusi. Dan kemudahan itu pasti datangnya bila kita menyadari hakikat dan pembelajaran apa yang Allah turunkan dari ujian yang sedang menimpa kita.
Ujian sejatinya akan terus ada selama jantung masih memompa darah, selama oksigen masih terus menjadi konsimsi kita, begitulah ujian yang akhirnya ada pada nadi yang berhenti berdenyut. Ujian memiliki atau tidak memiliki, ujian susah atau ujian senang, yang ketika kita senang tidak boleh lupan dan ketika sedih tidak boleh berhenti berharap, apalagi berhenti berusaha dan tenggelam dalam tangisan keluh kesah. Karena bukan untuk mengeluh kita hidup. Karena semua sakit ada penawarnya, dan semua ujian pasti ada solusinya. Dan solusi yang terbaik adalah solusi dari Allah yang Ia sampaikan dengan penuh cinta melalui KalamNya Al Qur’an. Itulah kenapa disetiap desir darah yang mengalir ada pesan bahwa kita wajib hukumnya terus berusaha mendekatkan diri dengan sang Khalid. Karena di ujian yang juga tak berhenti, hanya Allah yang tau solusinya, hanya Allah yang bisa mendatangkan penyelesaiannya. Jadi bisa di simpulkan jika kita saja jauh dari Nya dan menolak segala solusi yang Ia tawarkan, maka jangan heran jika ujian hanya akan di susul ujian dan ujian bukan penyelesaian dan kemudahan. Karena Allah dekat jika kita mendekat, Allah jauh karena kita yang menjauh. Bagaimana bisa permasalahan itu selesai jika solusi dan penyelesaian yang Allah berikan tidak pernah kita dengarkan, dan jelaslah bahwa syurga dan kebahagiaan yang Al Quran tawarkan hayalah untuk kaum yang mau mendengar. Kalau hari ini terasa rumit, sempit, dan segalanya sulit, mulailah evaluasi dari kedekatan diri kita kepada Allah. Menyadari bahwa kunci dari segala ujian adalah sabar dan syukur yang hanya bisa di dapat jika kita memiliki iman dan takwa kepada Nya. Agar langkah hidup yang sangat singkat ini dapat menjadi keberuntungan di kehidupan yang abadi kelak.
***

Bersama Al Qur'an

Mulia Bersama Al Qur’an
Siapapun kita berhak untuk mulia
Siapapun kita berhak untuk keluarga yang harmonis
Siapapun kita berhak untuk tenang dalam hidup
Dan semua itu datangnya dari Rahmat Allah
Ustadz Nurul Anwar, Lc.

Memuliakan Al Quran adalah salah satu sebab datangnya rahmat Allah. Karena Ahlu Quran adalah keluarga Allah dan hamba Allah yang spesial. “a’rod’tu ilaa ‘ibaadiyyaa sholihiin” Aku (Allah) telah siapkan untuk hambaku yang sholih. Apa yang Allah siapkan adalah syurga untuk orang-orang yang beriman. Orang yang beriman yaitu yang meyakini hari pembalasan sehingga ia menyadari segala karuniaNya akan dimintai pertanggungjawaban, atas waktu, harta, dan usia yang telah kita habiskan. Orang yang beriman yaitu yang terus memperbaiki diri, agar kelak bumi beserta isinya bersaksi bahwa dirinya merupakan hamba yang tidak pernah berhenti berusaha dalam menggapai ridhoNya. Dan salah satu wujud hamba yang mengharap ridho Rabbnya adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan belajar dalam mengenal Rabbnya dan berinteraksi dengan KalamNya. Dan ia melakukannya hanya karena Allah dan untuk Allah, agar kelak Allah meridhoinya sebagai salah satu penghuni syurga.
Menjadi Ahlu Quran adalah salah satu jalan menuju syurga dengan derajat yang tinggi. Menjadi Ahlu Qur’an yang terus belajar dan mengamalkannya, yang menjadikan orang disekitarnya mengenal islam lewat apa yang dia lakukan karena akhlaknya adalah akhlak Al Qur’an. Memang melakukannya tak semudah mengatakannya, karena akhlak Al Qur’an yang sebenar-benarnya hanya Rosulullah Salallahu Alaihi Wassalam yang memiliki. Namun kita sebagai umat yang mengaku menjadikan Nabi Salallahu Alaihi Wassalam sebagai teladan sudah seharusnya terus berinteraksi dengan Al Quran dan berusaha melaksanakannya dengan segenap kemampuan kita. Karena hidup mulia dengan Al Qur’an itu adalah bagaimana Al Qur’an “life” dalam hidup kita.
Adab yang paling utama dalam ibadah adalah niat, begitu pula dalam berinteraksi dengan Al Quran. Ikhlaskan niat hanya karena Allah. Bersihkan hati kita dari segala nafsu yaitu kemarahan, benci, dendam, iri, dan penyakit hati lainnya. Boleh juga mengulang-ulang ayat yang menggetarkan hati. Memahami makna dan tafsirnya, juga mentadaburi apa yang dibaca. Focus dan memperhatikan adab dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Mempelajari dan memperhatikan hokum tajwid dan lafadz gharib. Dan yang paling penting adalah menentukan target, tidak perlu cepat-cepat yang penting tepat, pelan, bertahap, dan meningkat.
5M POLA INTERAKSI AL QUR’AN
1.        MELAFADZKAN
Mulailah dengan melafadzkan atau membiasakan tilawah harian. Membiasakan interaksi Al Qur’an dengan setidaknya memiliki target bacaan harian meskipun hanya satu hari satu halaman, satu lembar, lima lembar sampai satu juz dengan bacaan yang benar. Jika masih terbata-bata dalam membaca bisa dengan meminta seseorang menuntun bacaan atau yang biasa disebut metode talaqqi. Jika belum mempunyai ustadz atau teman yang bisa mentalaqqi, bisa dengan mendengarkan murotal Al Qur’an dan mengulang-ulangnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak berinteraksi dengan AlQuran. Karena yang ada sebenarnya hanya ketidak mampuan kita dalam menghadapi nafsu yang menolak untuk berinteraksi dengan Al Quran. Dan ingatlah bahwa dengan mendengarkan bacaan Al Quran saja Allah menurunkan RahmatNya, jadi merugilah kita jika jauh dari Al Qur’an, karena dari Rahmat yang turun itu menyebabkan dosa kita diampuni dan doa diijabah.
2.        MENGHAFALKAN
Tidak ada batasan dalam agama yang mengharuskan penghafal adalah seorang yang berilmu tinggi, keturunan kiyai, atau tidak pernah melakukan maksiat kepada Allah. Karena syarat menghafal adalah cita-cita yang tinggi dan tekat yang tulus, keyakinan yang kuat atas balasan Allah, mau melangkah dan berusaha dengan istiqomah, dan mengikhlaskan segalanya kepada Allah. Tidak semua orang lahir dengan takdir yang sama, tidak semua orang lahir di lingkungan atau orang tua yang memiliki kedudukan mulia lagi berilmu tinggi. Namun demikian itu tidak menghalangi semua orang memiliki hak yang sama untuk mulia dan kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik. Yang membedakan hanya sejauh mana ia berusaha untuk merubah kehidupannya, dan sejauh mana ia berusaha memuliakan dirinya. Yang Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’ad : 11). Karena kemuliaan dan syurga itu diusahakan bukan ditunggu.
Ibadah itu meluangkan waktu bukan menunggu waktu luang, dan begitu pula dengan menghafal. Jika dirasa waktu padat pasti tidak akan sempat, berikanlah luang untuk menghafal dibeberapa waktu dan disetiap sela diamu isi dengan menghafal. Menghafal adalah mengulang-ulang bacaan, jika sedang jenuh berusahalah abaikan dan teruslah membaca. Ulang bacaan yang akan dihafal 75 kali – 100 kali. Jika harimu sangat padat dengan kerja atau apapun itu, luangkanlah setiap sehabis sholat fardu dengan membaca ayat yang akan dihafal 15 kali, sehingga dalam satu hari terulang 75 kali. Jika dalam mengulang 75 kali masih belum terekam dalam memory, ulanglah lebih banyak lagi. Ingatlah bahwa tidak ada yang sulit, jika belum hafal meskipun banyak mengulang itu hanya butuh waktu lebih, namun bukan berarti sulit. Berikan pemikiran positifmu, karena semua penghafal pasti pernah mengalaminya. Pada tahap pertama dalam menghafal awali dengan menghafal 1 baris ayat, kemudian 5 baris, 10 baris, 1 halaman, 1 lembar, dan terus meningkat setiap bulannya. Ingatlah untuk tidak menambah hafalan jika belum hafal betul dan belum memurojaahkannya atau mengulang-ulangnya lagi. Target utamanya bukanlah hafal tapi mendapat hikmah dan berkah dari proses menghafal itu sendiri, dan hikmah tidak akan didapat dengan terburu-buru. Untuk menguatkan hafalan boleh dengan mengeraskan suara (asal tau tempat dan tau waktu, jangan mengeraskan bacaan dimasjid apalagi ketika ada yang sedang sholat) karena itu meningkatkan semangat dan menghilagkan kantuk, tambah juga pada saat qiamullail, karena waktu tersebut adalah waktu yang paling tenang dan khusyu’. Tartillah dalam membaca, tidak cepat tidak lambat tapi tepat sesuai tajwid. Perkuat hafalan juga dengan menuliskan hafalan 5, 10, atau lebih untuk lebih mengikat hafalan. Melazimi adab-adab penghafal, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan, menjauhi hal yang sia-sia.
Menghafal dapat dilakukan siapapun yang memiliki kemauan meskipun ia belum lancer membaca Al-Quran atau belum faham betul hokum tajwid. Seperti halnya anak-anak dan orang yang terlampau tua untuk belajar, menghafal dapat dilakukan siapa saja. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah metode talaqqi atau dituntun oleh ustadz atau ustadzah dengan bacaan yang benar dan ditirukan oleh penghafal. Gaya belajar seperti ini dikenal sebagai gaya belajar auditori, yang lebih menekankan merekam dan mengingat melalui mendengar. Rosulullah Salallahu Alaihi Wassalam mendapatkan wahyu juga dengan ditalaqqi oleh Jibril Alaihi Salam megingat Rosul kita tidak mengenal huruf atau tidak bisa membaca. Dan sekali lagi, jangan terburu-buru, jangan melihat orang lain dalam menghafal, tugas kita hanya berusaha sekeras mungkin dan hasinya serahkan kepada Allah. Jangan minder meskipun proses kita lebih lama dari yang lain, karena boleh jadi dari proses tersebut kita mendapat pahala yang lebih dari yang lain.
3.        MEMAHAMI
Menjadi kewajiban setiap muslim dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Begitu pula ilmu Qur’an yang mana Al Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Kita dapat belajar memahami isi Al Qur’an dengan membaca makna, tafsir, dan asbabunnuzul melalui kitab-kitab hadist dan pendapat para ulama. Dengan begitu kita dapat mengetahui kedudukan Al Qur’an sebagai pedoman hidup, Al Qur’ansebagai sebaik-baiknya teman, mempelajarinya dapat mengokohkan hati, menghilangkan keraguan, dan memberikan solusi atas setiap permasalahan karena ia adalah Kalam Allah. Dengan mempelajari Al Qur’an kita juga dapat mengetahui hukum-hukum yang tetap dalam Islam, hukum yang ushul terkait aqidah, menunjukkan hal-hal yang wajib kita prioritaskan dalam hidup sehingga jelas misi kita yaitu untuk menggapai syurgaNya.
4.        MENTADABURI
Berinteraksilah dengan Al Qur’an seolah-olah Al Qur’an itu nasehat untuk diri kita. Merenungi setiap apa yang kita baca dengan penuh kekhusyu’an. Tadabur adalah salah satu media hati agar memiliki rasa  takut kepada Allah. Dengan tadabur ilmu menjadi berkah dan hikmah. Tadabur sendiri merupakan proses merenungi isi Al Qur’an melalui makna dan tafsirnya. Merenungi maksud dan makna ayat untuk diresapi dalam hati dan menjadikannya sebagai evaluasi diri, juga petunjuk bagi kehidupan. Yang pada akhirnya dalam tadabur dapat membantu kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan penghambaan kita kepada Allah. Karena fungsi diturunkannya Al Qur’an bukan hanya untuk dibaca, namun untuk perbaikan aqidah dan akhlak manusia.
5.        MENGAMALKAN
Ilmu tanpa amal adalah pincang, sedangkan amal tanpa imu adalah buta. Perumpamaan dari kehidupan yang jauh dari Al Quran adalah berjalan dijalan yang amat gelap tanpa membawa lentera, sehingga iya pasti tersesat atau celaka. Sedangkan seorang yang mempelajari Al Qur’an namun tidak mengamalkannya adalah seperti orang yang terombang-ambing ditengah lautan sedang dayung dan kapal yang ia naiki tidak berarti apa-apa dan tidak pula menolongnya. Yang berati sama dengan meninggalkan Al Qur’an orang yang tidak mengamalkan Al Qur’an padahal ia membaca, mengetahui, dan mengerti.
Melaksanakan dan mengamalkan hukum-hukum Al Qur’an yang merupakan hukum Allah merupakan keharusan bagi setiap muslim. Utamanya bagi ahlu Qur’an, yang mempelajarinya, yang menghafalnya. Jangan sampai menghafal Qur’an, belajar Qur’an namun tidak melaksanakan hukum-hukum Al Qur’an. Lebih baik seseorang yang tidak menghafal ayat namun melaksanakannya dari pada menghafal namun meninggalkan apa yang dihafal. Akan tetapi akan lebih baik lagi jika menghafal ayat namun juga melaksanakannya. Agar sempurna ilmu dan amal yang dilakukan. Namun bukan berarti hal ini menjadi alasan untuk enggan belajar dan menghafal karena takut tidak melaksanakan. Segala hal dalam hidup ini adalah proses memperbaiki dan menuju lebih baik, jika untuk melangkah mengetahui ilmu saja enggan bagaimana bisa bergerak dan mengamalkan. Karenanya suatu keharusan untuk kita terus berusaha dan terus belajar, untuk memahami, mentadaburi, dan mengamalkan hukum-hukum Al Qur’an. Karena Allah akan murka kepada ahlu Qur’an yang lalai dari hukum Al Qur’an, meskipun dalammembaca hukum tajwidnya benar.
Mengamalkan isi dari Al Quran juga merupakan bentuk menjaga hafalan. Tidak dipungkiri bahwa salah satu ujian bagi penghafal Qur’an adalah melanggar hukum-hukum Al Qur’an itu sendiri, dan itu dapat menjadi penyebab hilangnya apa yang dihafal dan hilangnya rahmat Allah. Dalam mengamalkannya hendaknya kita berhukum dengan hukum Al Qur’an untuk segala yang ada pada kehidupan kita. Wajib mengamalkan hukum yang jelas dan menjauhi hukum yang samara tau syubhat. Dalam berhukum pilihlah hadist yang sahih berdasarkan pendapat yang paling kuat dari para sahabat, tabi’ut tabi’in, dan imam empat madzab. Jika belum cukup ilmu alangkah baiknya hanya memilih salah satu madzab saja dan bergurulah kepada para ustadz dan ulama dalam mencari pendapat yang sahih. Ingatlah dalam memilih guru lihatlah kedekatan guru tersebut dengan Rosulullah Salallahu Alaihi Wassalam, yang dimaksud disini bukanlah dari jalur nasab namun dari kedekatannya dengan sunnah Rosulullah Salallahu Alaihi Wassalam, yang mengikuti dan menjalankan sunnah Nabi Salallahu Alaihi Wassalam. Kehati-hatian adalah hal yang sangat perlu dalam mengambil agama, jangan sampai kita menjadi seorang yang bodoh dalam kesesatan, karenanya selektif dalam memilih pendapat dan mengambil kesimpulan dari sesuatu yang belum tentu kita mengerti. Karena Al Qur’an dapat menuntun ke syurga dan juga dapat mendorong ke neraka. Barang siapa menjadikan Al Qur’an di depannya maka Al Qur’an akan menuntunnya ke syurga dan barang siapa menjadikan Al Qur’an di belakangnya maka Al Qur’an akan mendorongnya ke syurga. Menjadikan Al Qur’an didepan berarti menjadikannya sebagai imam yang menuntun setiap perilaku dan langkah hidupnya, sedangkan menjadikan Al Qur’an dibelakang berarti ia mengambil dalil Al Qur’an sebagai pembenar atau mencari pembenaran dari dalil yang belum tentu benar secara pemahaman. Semoga kita dijauhkan dari yang demikian, karena yang dicari adalah kemuliaan dimata Allah bukan pemuliaan oleh makhluk.

***

Menggapai Istiqomah

Menggapai Istiqomah
Manfaatkan hidup kita untuk terus belajar dan mengamalkan Al Qur’an
Karena dalam Al Qur’an ada kesempurnaan agama
Belajarnya adalah selamanya dan mengamalkannya adalah seterusnya
Karena kelak kita ditanya untuk apa kita habiskan umur kita
Jangan sampai kita merugi dan menjadi orang yang bodoh ilmu Al Qur’an
Kebodohan karena tidak pernah berusaha mencari dan mempelajarinya
Dan jangan sampai kita menjadi rugi karena fasik
Yang mengetahui ilmu namun enggan mengamalkannya

Kunci dari keistiqomahan adalah kesungguhan dan ikhlas karena Allah. Dan ini menjadi hal yang wajib ada pada setiap penuntut ilmu utamanya ahlu Qur’an.  Seseorang yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan apa yang ia upayakan dengan kesungguhannya itu. Allah berjanji dalam firmanNya “Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik” (Q.S. Al Isra’ : 19). Jika penghafal bersungguh-sungguh dalam menghafal apa yang ingin dia hafal, pasti ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan asalkan kesungguhan itu ada dan disertai keikhlasan karena Allah. Karena niat kesungguhan yang tidak disertai keikhlasan karena Allah akan mudah runtuh bila diterpa ujian yang datang dari pandangan makhluk. Untuk itu landasi segala usaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karena berharap kepada Allah semata.
Berusaha dengan sungguh-sungguh artinya bersemangat dengan tekad kuat dalam mencapai tujuan. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sampai-sampai akan menyesal jika waktunya habis tanpa upaya mencapai tujuan. Rela mengorbankan yang berharga seperti waktu, tenaga, bahkan peluang emaspun akan dilepas dalam mencapai tujuan. Penuntut ilmu adalah seorang yang sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit bicara, karena apa yang keluar dari dirinya bukanlah untuk kesia-siaan. Selalu kuat dan percaya akan pertolongan Allah dalam melewati segala tantangan. Gemar bermuhasabah, mengevaluasi usaha dan hasil yang diraih untuk terus berusaha memperbaiki hingga tercapai apa yang dituju. Mandiri dan tidak terpengaruh dengan lingkungan yang tidak mendukung tujuan, juga menjauhkan diri dari hal-hal yang mungkar, seperti bohong, sombong, iri, dan penyakit hati lainnya. Waspada terhadap apa-apa yang dapat menghancurkan usahanya dalam menggapai ridha Allah, utamanya kesombongan yang dapat menghancurkan semua amal. Menyadari bahwa penuntut ilmu, penghafal Al Qur’an akan selalu menemui banyak godaan, karena itu diperlukan hati yang kuat, bersungguh-sungguh, sabar, ikhlas, dan hati yang lapang. Selalu memperhatikan segala celah dosa yaitu makanan dan pergaulan, memperhatikan kehalalan dan menjaga pergaulan adalah prioritas seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh.

Kesungguhan dan keihklasan adalah sesuatu yang amat berharga, dan mengistiqomahkannya bukanlah hal yang mudah. Namun wajib bagi kita untuk terus berupaya bertahan dalam keistiqomahan dalam kebaikan. Mempertahankan kesungguhan artinya selalu meluruskan niat, niat yang lurus ikhlas hanya karena Allah dan untuk Allah segala yang kita lakukan. Memperbanyak doa agar Allah menjaga hati kita tetap ikhlas dan agar Allah menjadikan kita sebagai orang yang selalu istiqomah dijalan Nya. Selalu mengingat Allah sebagai tempat kembali, kematian bisa datang kapan saja dan merugilah kita jika pergi dalam keadaan meninggalkan kebaikan. Lakukan dengan skala prioritas yang jelas agar kita jauh dari hal yang sia-sia. Bergaul dengan teman yang bersungguh-sungguh dan berpindah dari lingkungan yang tidak mendukung kebaikan yang kita lakukan. Selalu berkumpul dengan orang soleh dan meminta nasihat darinya agar terus dalam keistiqomahan. Jadikan setiap langkah hidupmu sebagai langkah yang membawa berkah, kalau bukan untuk orang lain, paling tidak untuk dirimu sendiri.

Minggu, 13 November 2016

DAKWAH ADALAH CINTA

Dakwah

Adalah dakwah ungkapan cinta
Meski kadang rasa cinta yang kita ungkapkan disikapi dengan sebaliknya
Tapi jangan berhenti untuk tetap mencintai
Mungkin ungkapan kita yang perlu diperbaiki
Lebih lembut lagi lebih sabar lagi
Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran
Adapun ditolak atau dinilai berbeda biarlah begitu
Namun bukan karenanya kita berhenti mencintai
Teruslah mencintai agar iman kita sempurna
Menyampaikan yang benar untuk keselamatan
Merajut cinta dengan ukhuwah

SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA

Syahadat
.
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagai muslim perlu kita ketahui salah satu hukum yang penting yakni hukum yang membuat kita mengerti apakah kita masih bertahan di atas syahadat atau tidak. Agar kita dapat menjaga diri kita dari hal-hal yang membatalkan syahadat. Supaya nantinya ucapan lisan kita(Syahadat) tidak dibantah oleh perbuatan kita sendiri. Untuk itu perlunya kita mengerti konsekuensi dari syahadat yang kita ucapkan dan menjadi orientasi hidup kita hingga akhir hayat. 

Syahadat adalah ikrar seorang muslim yang mana ia mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mengakui bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah utusannya. Dengan syahadat seorang muslim wajib hukumnya menjaga akidah diatas jalan tauhid, menjaga diri dari perbuatan syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Percaya bahwa Allah adalah tempat bersandarnya segala urusan beserta sifat-sifatNya dan memercayai apa saja syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Konsekuensi syahadat adalah menaati Allah, menaati Rosul, mengagungkan Rosul, dan mencintai Rosul. 

4 Konsekuensi orang yang bersyahadat

1. Taat pada perintah Allah yang disampaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan tidak ada kata tidak untuk ketaatan menjauhi larangannya dan menjalankan perintahnya. Patuh tanpa menawar hukum Allah yang ditetapkan atau memilih hukum yang ia senangi dan meninggalkan yang tidak ia senangi.

2. Percaya segala informasi dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam baik yang masuk akal maupun yang tidak. Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam karena Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah mengajarkan kita bagaimana berkehidupan semua telah diajarkan oleh Nabi sebagai mana Allah telah menyempurnakan Islam maka tidak ada hukum yang tertinggal atau belum disampaikan. Keyakinan ini mengharuskan kita untuk percaya bahwa segala yg disampaikan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sudah sempurna dan tidak perlu adanya tambahan atau hal-hal yang baru dalam ibadah. Cukup mengikuti Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau.

3. Mengagungkan beliau dengan nenghidupkan sunnah Rosul Menjaga sunnah Rosul Membantah syubhat-syubhat. Menghormati dan mengagungkan ucapan Rosul. Jangan dipertentangkan dengan akal. Percayai ucapan Nabi. Taati perintah Nabi. Semua ajaran Rosul datangnya dari Allah pastilah baik untuk kita.

4. Bukti cinta kepada Rosul: Dahulukan perkataan beliau. Tidak boleh menolak hadist Nabi karena nafsu atau perasaan keinginan kita. Beradab pada Nabi, Ketika disebut namanya maka ucapkan sholawat dan salam. Melaksanakan Sunnah-sunnah beliau, tidak mengolok-olok Sunnah beliau jika memang tidak mau melaksanakan.

Apa yang akan didapat jika mencintai Rosul dan menghidupkan sunnahnya? Akan dikumpulkan bersama Rosul di Akhirat kelak. Dan yang harus kita ingat dan waspadai bahwa ada umat yang tidak boleh mendekati telaga Nabi. Setiap akan mendekat selalu dihalau malaikat. Hal ini karena perbuatan mereka di dunia yang menjalankan ibadah tidak sesuai syariat yang diajarkan Nabi. Membuat buat hal yang baru dalam agama yang itu tidak ada bahkan bertentangan dengan Sunnah beliau.

Semoga kita termasuk golongan yang menjaga syahadat dan berhati-hati dalam hal agama, beragama sesuai dengan apa yang diajarkan beliau Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam agar kelak mendapatkan syafaat nya . Aamiin..

Sumber
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA

UNTUK SAUDARA MUSLIM

_Gerakan "Mari berbelanja di warung MUSLIM !"_

Berbelanja kebutuhan harian, mingguan atau bulanan keluarga, biasanya kita lakukan di hari libur. Tetapi, bijakkah kita bila membeli jauh2 ke pusat belanja "modern"?
Coba tengok kebiasaan kita ini. Belanja di swalayan IndoMart atau AlfaMart, semua barang memang terpampang. Tapi, hampir tak ada interaksi kemanusiaan. Apalagi pertemanan dan persaudaraan. Bertahun-tahun kita menjadi pelanggan, yang bahkan dibuktikan dengan "kartu pelanggan", tapi sungguh penjualnya tetap tidak kita kenal. Bahkan pelayanpun kita tak tahu siapa, apa dan bagaimana kehidupan mereka. Komunikasi hanya dengan "pelayan", ingat bukan "penjual". Dan hanya seputar transaksi saja. Itupun sekarang diwakili dengan tulisan.

Sementara ketika kita membeli di warung muslim tetangga, selain dekat, juga ada interaksi sosial kemasyarakatan yang akrab. Ada "obrolan", bukan sekedar transaksi barang yang menghilangkan nilai sosial kemanusiaan kita. Kita jadi tahu, kenal dan dekat dapat silaturahmi dengan masyarakat dan lingkungan. Komunikasi beginilah yang manusiawi. Yang menghubungkan antar orang, komunitas dan masyarakat. Bukan sekedar barang, angka penjualan dan plastik kemasan.

Membeli di warung muslim tetangga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga sesama muslim. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga muslim, Suami, istri dan anak2nya. Dan mereka, berperan sebagai penjual. Berwirausaha. Bukan sekedar menjadi pelayan alias pekerja dari para pemilik modal kapitalis liberal yg berdalih seragam karyawan... 
Bayangkan, sampai umur berapa toko2 modern "mau" mempekerjakan para pelayan ini? Cuma saat usia muda. Sedang dengan menjadi "penjual", sebenarnya mereka akan "terhidupi" Bahkan sampai anak-anak mereka dewasa.

Belum lagi soal efektifitas budget kita. Bayangkan, saya pernah uji coba, membawa uang 100 ribu dan pergi ke toko swalayan modern. Ternyata kurang! Dan lihat belanjaannya. Saya banyak membeli barang yang tak perlu. Karena godaan iklan dan penataan, saya melakukan pemborosan! 

Sedang ketika saya ke warung muslim tetangga , uang 100 ribu masih sisa. Barangnya pun sangat fungsional, benar-benar kebutuhan pokok. Dan saya mendapatkan bonus ungkapan penjual yang membahagiakan, "Alhamdulillah  syukur ya, pagi2 sudah ada yang belanja 75 ribu.... makasih ya bu", sambil tersenyum tulus... 
Sungguh itu bonus yang lebih mahal daripada sekedar "obral dan diskon ngakali" yang penuh strategi bisnis.

Jadi berpikirlah sebelum berbelanja! Shopping lah di warung tetangga muslim atau pasar tradisional. Nikmatilah sisi kemanusiaan anda. Disitulah "rekreasi sebenarnya".Jangan buang waktu anda di swalayan dan supermall modern hanya untuk membeli kebutuhan pokok rumah tangga anda. Warung tetangga jauh Lebih murah, manusiawi, menumbuhkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan ada nilai silaturahmi antar tetangga.
Mau umur panjang dan banyak rejeki? Mari biasakan berbelanja di warung tetangga muslim kita...

Sekali lagi " Ayo Selamatkan Warung/Toko dan Pasar Tradisional muslim di sekeliling kita"!

*"GERAKAN BELANJA DI WARUNG MUSLIM"*

By : Akhwat ODOJ

Sabtu, 12 November 2016

DOA DAN AKU ADALAH HARAPAN

Doa

Harapanku ada di setiap hujan
Disetiap malam
Diantara gema panggilan Nya
Begitulah adanya kita sebagai hamba
Yang lemah minta dikuatkan
Yang sakit minta diberi sabar
Begitulah adanya kita sebagai hamba
Menggantungkan nya dilagit agar abadi

Rila Maya

Kamis, 10 November 2016

HIKMAH

HIKMAH

Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui taubat dan istghfarmu. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi besar. Sediakanlah untuk dirimu, beberapa saat untuk mengintropeksi diri terhadap apa-apa yang telah dilakukan, yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan ia sedikitpun tanpa guna dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.

*Imam Hasan Al Banna*

Rabu, 09 November 2016

INDAHNYA TAGHOFUL

Mulia Dengan Sunnah :
*Taghoful* artinya melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat ingatnya. Ia adalah akhlak yang mulia. Al Hasan Al Bashri berkata, “Taghoful adalah akhlak orang orang yang mulia.”

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :
ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.
Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang orang mulia.
Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.
Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.
Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.
Oleh karena itu imam Ahmad berkata, “Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghaful.” (Tahdzibul Kamal 19/230).

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya.
Tetapi ketika kita benci.
Kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita.
Allahul Musta’an.
Sumber dari Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Minggu, 08 Maret 2015

PERBAIKI DARI YANG MUDA



“PERBAIKI DARI YANG MUDA”
           Bagaikan menegakkan benang basah. Ungkapan ini tepat untuk pembangunan moral saat ini. Dikala korupsi sudah menggurita. Penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang dianggap biasa. Banyak kasus sosial yang memperlihatkan kebobrokan bangsa. Dari kakek memperkosa anak balita, korban miras oplosan, sampai PSK berseragam, seolah-olah hal ini hanya fenomena biasa. Pemerintah yang harusnya tanggap atas kemerosotan moral bangsa malah bungkam dan menyumbat telinganya rapat-rapat. Sedangkan untuk memperbaiki moralitas yang semakin hari semakin merosot membutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini mustahil menciptakan kerja sama yang baik. Sedangkan para petinggi negara dengan bangganya mencekik rakyatnya sendiri, tanpa perduli akan jeritan-jeritan yang semakin hari semakin keras. Hanya demi harta dan memperkaya diri ia rela menjilat ludahnya sendiri, yang tak lama ia ikrarkan saat pemilu.
Maka tak salah jika pemuda bangsa ini lebih memilih jalur negatif dari pada jalur positif, maka tak salah jika kerap kali mereka membakar ban bekas didepan kantor-kantor pemerintah, sampai berani meneror pemerintahan. Hal itu adalah peluru balik yang mereka tembakkan karena pendapat-pendapat rakyat yang tak dianggap, masalah yang tak diselesaikan, dan korupsi yang tak hentinya. Maka bukan hal yang mustahil pula jika kelak mereka akan menjadi seorang koruptor ditengah krisis moral yang akut ini. Karena tak elaknya seorang guru tingkah polah pemerintah adalah teladan bagi rakyatnya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal ini bapak Thariq Mahmud selaku Ketua Umum Gerakan Pendidikan Anti Korupsi berinisiatif untuk memasukkan kurikulum anti korupsi dalam jenjang pendidikan SD sampai SMA. Hal inilah yang harus mendapat dukungan penuh. Karena akan percumah langkah dari KPK jika pemuda sebagai calon pemimpin tidak mendapat stimulasi moral anti korupsi. Hal ini dapat menjadi pondasi yang kuat jika diterapkan pada calon-calon pemegang tanggung jawab negara, jadi bukan hanya kemampuan intelektual yang diutamakan tetapi juga kemampuan spiritual dan moral.
Inilah salah satu jembatan untuk mendobrak krisis moral pada generasi muda. Untuk terciptanya generasi yang sehat dari korupsi dan nepotisme. Karena jika tidak segera di tindaklanjuti maka generasi muda akan ikut terjerumus dalam jurang korupsi. Seperti pada data yang saya dapat dari Indek Persepsi Korupsi (IPK) data tahun 2009 menunjukan bahwa Indonesia berada pada papan bawah dengan dengan Indek Persepsi Korupsi (IPK) 2,8. Skala IPK mulai dari 1 sampai 10, semakin besar nilai IPK suatu negara maka semakin bersih negara tersebut dari tindakan korupsi. Dari data yang diperoleh dari Transparency International Corruption Perception Index 2009 tersebut, IPK Indonesia sama dengan negara lainnya pada urutan 111. Di Jawa Timur saja Jaringan Kerja Antikorupsi (JKAK) Jawa Timur mencatat, nilai kerugian akibat korupsi per 30 November di Jawa Timur mencapai Rp 1,1 triliun. Sedang kasus korupsi yang terjadi mencapai 112 kasus menyebar di 28 kabupaten/kota. Hal ini menunjukkan bahwa negara kita adalah salah satu gudang korupsi.
            Maka dari itu tanggung jawab kita juga sebagai generasi muda untuk membentengi diri dari korupsi. Membiasakan diri untuk tidak berbuat curang adalah salah satu cara menghindari korupsi. Karena korupsi juga salah satu bentuk kecurangan, hanya saja bersekala besar. Sebenarnya kebanyakan curang itu berasal dari rasa malu, contoh saja mencontek, karena kita malu kalau-kalau nilai kita jelek, secara otomatis kita akan memilih jalan pintas untuk mengatasi rasa malu tersebut. Padahal dengan jalan kecurangan itu bisa membuat rasa malu yang lebih besar. Pikir saja jikalau orang tua kita tahu hasil rapot kita dari hasil contekan bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi. Pada kesimpulannya curang bukan menolong malah memperparah masalah kita.
Hal ini dikarenakan relatif orang tidak berfikir panjang tentang apa yang dia perbuat. Seperti contoh diatas, kita hanya berfikir penyelesaian satu masalah dan tidak berfikir tentang masalah yang timbul berikutnya. Kalau begitu jika kita berfikir tentang masalah berikutnya maka kita bebas berbuat curang? Oh tidak, karena setelah masalah selanjutnya selesai akan ada masalah lagi yang menunggu untuk diselesaikan dan begitu pun seterusnya. Bukti otentik seorang koruptor akan mendapat masalah hingga akhir hayatnya, dari hukuman sampai cemoohan dari masyarakat, namanya akan kotor dan malu di tanggung hingga anak cucunya. Jika sudah begitu apa yang bisa dilakukan, malu yang mulanya kecil menjadi besar yang harus dipikul hingga mati. Dengan begitu masih beranikah kita berbuat curang? Jika kita normal pasti kita berkata “TIDAK”. Pada topiknya kita harus berfikir kritis dalam memecahkan masalah ataupun melakukan sesuatu.
Kecenderungan seseorang yang mengambil jalan pintas membuat banyaknya masalah yang dihadapi menjadi berkepanjangan. Tidak hanya itu pikiran pendek seorang anak pasti akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya, demikian juga pada generasi muda. Jika mereka kritis maka mereka akan mengingatkan kesalahan orang tuanya. Tetapi, jika tidak yang dilakukan pasti akan meniru dan mengikutinya. Dan pemerintah adalah contoh bagi rakyatnya, jika pemerintah curang, itu juga yang akan terjadi. Bayangkan jika masyarakat mencontoh pemerintah yang curang, apa yang akan terjadi? Itu seperti bom bunuhdiri yang menghancurkan bangsa sendiri. Maka itulah pentingnya berfikir kritis. Tapi, untuk mencetak yang demikian tidaklah mudah.
Contoh kasus seorang bapak menyodorkan kepada seorang polisi sejumlah uang agar tidak ditilang, polisi itu pun melepaskan bapak itu. Jika bapak itu kita tanya mengapa berbuat demikian, pasti dia akan menjawab “polisinya saja mahu kenapa saya tidak”. Sekuat apapun kita mengingatkan jika hal itu sudah membudaya maka akan sulit menghilangkannya. Berlaku pula pada pemikiran, jika pemikiran itu sudah mendarah daging maka akan sulit pula menghilangkannya. Nah maka dari itu, salah satu cara meluruskan cara fikir para pemuda adalah dengan pendidikan anti korupsi. Dengan pemikiran awal setiap orang pasti berfikir tentang pemecahan masalah lain yang jauh dari kecurangan. Karena kita faham bahwa curang menambah masalah yang lebih besar, jadi kemungkinan besar kita akan memilih jalan lain yang sehat. Ibarat bayi yang diberi cabe, ia akan menolak jika tahu rasa cabe itu pedas.
            Dengan menanamkan pemikiran demikian setiap orang akan takut untuk melakukan kecurangan. Meski mustahil membuat orang jujur sejujur-jujurnya tapi dengan adanya pendidikan anti korupsi saya yakin bisa meminimalisir tingkat kecurangan khususnya korupsi di Indonesia. Apa lagi jika dimasukkan dalam kurikulum, karena lebih mudah menanamkan pemikiran pada usia sekolah dari pada orang tua yang cenderung merasa paling benar. Walaupun demikian KPK selaku pemberantas korupsi juga harus memberikan vitamin moral dan kerohanian pada para pemegang pemerintahan, lewat sosialisasi dan pengarahan layaknya generasi muda. Meskipun mereka cukup umur dan dalam kategori dewasa layaknya tanaman jika tidak dipupuk, disiram dan disiangi maka tanaman tersebut akan layu dan di tumbuhi rumput liar. Yang demikian juga mendukung pemuda dalam pendidikan anti korupsi. Kerena jika pemerintahan bisa jujur tanpa unsur curang apa lagi korupsi maka, akan menciptakan generasi yang taat peraturan. Entah itu peraturan sekolah maupun peraturan negara.
Tapi jika memang itu yang dinanti mestinya kita bertindak, tidak hanya protes lewat tulisan dan omong kosong saja. Karena jika di lihat di sekitar kita, pemuda yang siap membangun bangsa tidak lebih dari 50%. Pemuda sekarang lebih suka pacaran, nongkrong ataupun ngenet sambil facebookan daripada aktif dalam organisasi dan pembangunan masyarakat. Seperti pada saat saya mewawancarai seorang pengurus desa saya bertanya “bagaimana keadaan karangtaruna di desa ini?” apa yang bapak itu jawab “baik, masih hidup kok?” Itu saja sudah mencerminkan bentuk kecurangan. Mengapa? Karena setelah saya survei ternyata karangtaruna di desa itu bisa dikatakan tidak aktif. Pengurusnya kebanyakan sudah berkeluarga, dan salah satu penyebabnya adalah kurangnya kader muda penerus bangsa. Padahal jika dilihat jumlah pemuda di desa itu cukup mendominasi. Terlihat jelas pengurus desa tadi berkelit dari kenyataan, apapun alasannya hal itu merupakan perilaku yang tidak seharusnya dilakukan. Ini juga salah satu dampak sosial korupsi, dimana menutup-nutupi kesalahan menjadi sah dan dihalalkan. Setiap ditanya mengapa jawabnya “Bagai mana pemerintah kelas teri bisa jujur jika yang kakap saja makan uang rakyat”. Jika yang duduk di kursi kekuasaan saja korupsi, jangan salahkan Gayus jika ke luar negeri saat ditahan polisi.
            Dari kasus-kasus diatas ternyata banyak yang perlu dibenahi dari negeri kita ini. Dan semua sumber masalahnya adalah pemuda kita, yang mungkin saja masih tidur dan memendam mimpi dan cita-citanya. Jadi apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah bangun wujudkan mimpi dan cita-cita kita. Maka sekarang bangun, wujudkan pemuda anti korupsi, hidupkan budi pekerti dan moral bangsa, majukan Indonesia. Pasang anti virus kalian jangan sampai virus pembodohan menggerogoti bangsa kita, karena itu yang memicu permusuhan dan keterpurukan bangsa. Semoga kata tak sekedar angan impian, tapi kata yang nyata terwujud dan berbuah bangga.

MORAL INDONESIA TERGADAIKAN




“MORAL INDONESIA TERGADAIKAN”

Dari segi politik indonesia memiliki dasar negara, UUD, dan sistem pemerintahan yang baik. Tapi sayang dalam penerapanya banyak kecurangan-kecurangan yang menyebabkan cacat bahkan hancurnya hukum negara ini. Sedang peran hukum adalah suatu yang penting untuk mengatur suatu rangkaian kekuasaan, berarti hukum juga sebagai perantara utama dalam hubungan sosial masyarakat. Dan jika hukum dalam negara itu cacat atau malah hancur maka, hancur pula keadilan dalam jembatan antar hubungan sosial masyarakat suatu negara tersebut. Jika hal seperti ini tidak segera di tindak lanjuti maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan juga bisa hilang. Ironinya para pemuda yang diharapkan dapat mendobrak ketidak adilan itu hanya diam dan acuh tak acuh melihat keadaan bangsanya yang seperti ini.
Di dalam politik itu sendiri sebagai pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang khususnya dalam proses pembuatan keputusan, pemuda sangatlah dibutuhkan. Dalam pemilu saja Sebagaimana yang dijabarkan dalam UUD 1945 Pasal 22E ayat 2, “Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.” Sebagai contoh, jika ada sepuluh saja pemuda yang tidak turut serta dalam pemilihan umum, sama artinya dengan membuka peluang sekian persen untuk dipimpin oleh politisi yang tidak di inginkan selama ini. Lalu bagai mana jika lebih dari sepuluh pemuda yang golput sedang pemuda sebagai jembatan perbaikannya tak melirik bangsanya.
Yang diharapkan bangsa adalah  pemuda yang peduli terhadap bangsanya. Berbalik dengan kondisi saat ini jika pemuda yang mahu tak mahu harus menjadi pengganti pemerintahan seperti ini, bagai mana nasib bangsa kita selanjutnya. Dari sekian banyak pemuda Indonesia sebagian besarnya memilih nongkrong, facebook-an, nge-game bahkan pacaran dari pada nonton berita atau ikut organisasi. Dengan Parlemen yang sekarang ruwet akan semakin runyam jika pemudanya hanya di jadikan pajangan saja tanpa pembinaan bahkan perhatian pemerintah.
Pemuda memang suatu komponen penting bagi negara yang ingin maju dan berkembang. Karena pemudalah yang dapat mereformasi pemerintahan yang saat ini dalam keadaan kronis. Tapi pada kenyataannya pemuda yang di eluh-eluhkan dapat merubah keadaan negara ini tidak dapat bangkit dan terperangkap dalam keringnya moralitas bangsa. Yang harusnya merekalah yang mengukuhkan keadilan bangsa malah larut dalam globalisasi dan mengabaikan pancasila sebagai dasar negara. Banyak kasus-kasus yang miris tentang pemuda, entah itu narkoba, premanisme, perkosaan, psk berseragam, dan masih banyak lagi penyimpangan sosial yang dihadapi pemuda Indonesia. Pemerintah harusnya dapat berkaca dan melihat betapa  terpuruknya moral bangsa ini. Tapi naasnya pemeritah sedang sibuk minta kenaikan gaji, sampai-sampai tak melihat moral bangsa yang sedang sekarat.
Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan pemuda sebagai penerusnya jangan hanya memutar-mutar kasus korupsi dan bermain uang di persidangan saja. Jika memang negara bersikap waspada, waspadalah pada pemuda yang sekarang kekurangan rasa peduli kepada bangsanya, kurangnya rasa bela negara,dan krisis moral yang telah menggerogoti bangsa. Lalu bagaimana jika kelak pemerintahan dipimpin pemuda yang demikian, yang sekarang tak acuh terhadap nasib rakyat akan semakin tak acuh bahkan bisa saja meninggalkan rakyat. Rakyat tidak butuh dengan janji-janji palsu pemerintah. Yang diharapkan hanya kepedulian terhadap rakyat terutama bobroknya moral yang kian terpuruk.
Jika memang pemuda adalah penerus negara yang di butuhkan khususnya dalam perpolitikan, pemerintah harusnya menaruh perhatian lebih. Pada jaman yang serba tegnologi ini Indonesia tidak malah maju tetapi malah semakin terpuruk. Yang harusnya menjadi lebih faham hukum sekarang lebih cenderung ke pelanggar hukum. Bukan hanya rakyat bahkan pemerintah sebagai contoh dan teladan turut mendaftar sebagai pelanggar hukum. Sedang pemerintah sekarang kebanyakan mementingkan kepentingan individu dari pada sosial. Akhirnya peluang untuk menciptakan pemuda yang mampu merintis lahirnya budaya politik baru dan perilaku politik yang lebih santun agaklah sulit. Yang bisa menciptakan hal demikian haruslah dilakukan dengan suatu landasan pendidikan yang baik dengan pemahaman dan penerapan yang baik pula. Sedang pendidikan yang saat ini lebih menuntut teori atau ujian tertulis, membuat tidak seimbangnya antara diatas kertas dengan kenyataan atau penerapannya.
Fungsi pelajaran bela negara sekarang ini juga sangat minim, siswa hanya berlomba-lomba mencari nilai dari pada ilmu yang harusnya berguna bagi pemerintahannya kelak. Sedang banyak di luar sana pemuda-pemuda yang tak bersekolah. Yang seperti ini menginginkan kemajuan politik ekonomi, pendidikan  saja hanya bisa duduk di posisi bawah. Sementara itu sebab yang paling kecil yaitu pendidikan tidak begitu di perhatikan, dari pihak pemerintah hanya menaikan standar kelulusan tanpa melihat SDM yang jauh tertinggal. Dalam prakteknya saja sekolah bagiakan sebuah tuntutan. Akibatnya banyak kasus putus sekolah yang disebabkan pergaulan bebas, entah itu bolos sampai hamil di luar nikah. Jika demikian bagai mana dengan peran pemuda sebagai penerus bangsa.