“MORAL
INDONESIA TERGADAIKAN”
Dari segi
politik indonesia memiliki dasar negara, UUD, dan sistem pemerintahan yang
baik. Tapi sayang dalam penerapanya banyak kecurangan-kecurangan yang
menyebabkan cacat bahkan hancurnya hukum negara ini. Sedang peran hukum adalah
suatu yang penting untuk mengatur suatu rangkaian kekuasaan, berarti hukum juga
sebagai perantara utama dalam hubungan sosial masyarakat. Dan jika hukum dalam
negara itu cacat atau malah hancur maka, hancur pula keadilan dalam jembatan
antar hubungan sosial masyarakat suatu negara tersebut. Jika hal seperti ini
tidak segera di tindak lanjuti maka kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintahan juga bisa hilang. Ironinya para pemuda yang diharapkan dapat
mendobrak ketidak adilan itu hanya diam dan acuh tak acuh melihat keadaan
bangsanya yang seperti ini.
Di dalam politik itu sendiri sebagai pembentukan dan
pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang khususnya dalam proses pembuatan
keputusan, pemuda sangatlah dibutuhkan. Dalam pemilu saja Sebagaimana yang dijabarkan dalam UUD 1945 Pasal
22E ayat 2, “Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.” Sebagai contoh, jika ada sepuluh saja pemuda
yang tidak turut serta dalam pemilihan umum, sama artinya dengan membuka
peluang sekian persen untuk dipimpin oleh politisi yang tidak di inginkan
selama ini. Lalu bagai mana jika lebih dari sepuluh pemuda yang golput sedang
pemuda sebagai jembatan perbaikannya tak melirik bangsanya.
Yang diharapkan
bangsa adalah pemuda yang peduli
terhadap bangsanya. Berbalik dengan kondisi saat ini jika pemuda yang mahu tak
mahu harus menjadi pengganti pemerintahan seperti ini, bagai mana nasib bangsa
kita selanjutnya. Dari sekian banyak pemuda Indonesia sebagian besarnya memilih
nongkrong, facebook-an, nge-game bahkan pacaran dari pada nonton berita atau
ikut organisasi. Dengan Parlemen yang sekarang ruwet akan semakin runyam jika
pemudanya hanya di jadikan pajangan saja tanpa pembinaan bahkan perhatian
pemerintah.
Pemuda memang
suatu komponen penting bagi negara yang ingin maju dan berkembang. Karena
pemudalah yang dapat mereformasi pemerintahan yang saat ini dalam keadaan
kronis. Tapi pada kenyataannya pemuda yang di eluh-eluhkan dapat merubah
keadaan negara ini tidak dapat bangkit dan terperangkap dalam keringnya
moralitas bangsa. Yang harusnya merekalah yang mengukuhkan keadilan bangsa
malah larut dalam globalisasi dan mengabaikan pancasila sebagai dasar negara.
Banyak kasus-kasus yang miris tentang pemuda, entah itu narkoba, premanisme,
perkosaan, psk berseragam, dan masih banyak lagi penyimpangan sosial yang
dihadapi pemuda Indonesia. Pemerintah harusnya dapat berkaca dan melihat betapa terpuruknya moral bangsa ini. Tapi naasnya
pemeritah sedang sibuk minta kenaikan gaji, sampai-sampai tak melihat moral
bangsa yang sedang sekarat.
Pemerintah
seharusnya lebih memperhatikan pemuda sebagai penerusnya jangan hanya
memutar-mutar kasus korupsi dan bermain uang di persidangan saja. Jika memang
negara bersikap waspada, waspadalah pada pemuda yang sekarang kekurangan rasa
peduli kepada bangsanya, kurangnya rasa bela negara,dan krisis moral yang telah
menggerogoti bangsa. Lalu bagaimana jika kelak pemerintahan dipimpin pemuda
yang demikian, yang sekarang tak acuh terhadap nasib rakyat akan semakin tak
acuh bahkan bisa saja meninggalkan rakyat. Rakyat tidak butuh dengan
janji-janji palsu pemerintah. Yang diharapkan hanya kepedulian terhadap rakyat
terutama bobroknya moral yang kian terpuruk.
Jika memang
pemuda adalah penerus negara yang di butuhkan khususnya dalam perpolitikan,
pemerintah harusnya menaruh perhatian lebih. Pada jaman yang serba tegnologi
ini Indonesia tidak malah maju tetapi malah semakin terpuruk. Yang harusnya
menjadi lebih faham hukum sekarang lebih cenderung ke pelanggar hukum. Bukan
hanya rakyat bahkan pemerintah sebagai contoh dan teladan turut mendaftar
sebagai pelanggar hukum. Sedang pemerintah sekarang kebanyakan mementingkan
kepentingan individu dari pada sosial. Akhirnya peluang untuk menciptakan
pemuda yang mampu merintis lahirnya budaya politik baru dan perilaku politik
yang lebih santun agaklah sulit. Yang bisa menciptakan hal demikian haruslah
dilakukan dengan suatu landasan pendidikan yang baik dengan pemahaman dan
penerapan yang baik pula. Sedang pendidikan yang saat ini lebih menuntut teori
atau ujian tertulis, membuat tidak seimbangnya antara diatas kertas dengan
kenyataan atau penerapannya.
Fungsi
pelajaran bela negara sekarang ini juga sangat minim, siswa hanya
berlomba-lomba mencari nilai dari pada ilmu yang harusnya berguna bagi
pemerintahannya kelak. Sedang banyak di luar sana pemuda-pemuda yang tak
bersekolah. Yang seperti ini menginginkan kemajuan politik ekonomi,
pendidikan saja hanya bisa duduk di
posisi bawah. Sementara itu sebab yang paling kecil yaitu pendidikan tidak
begitu di perhatikan, dari pihak pemerintah hanya menaikan standar kelulusan
tanpa melihat SDM yang jauh tertinggal. Dalam prakteknya saja sekolah bagiakan
sebuah tuntutan. Akibatnya banyak kasus putus sekolah yang disebabkan pergaulan
bebas, entah itu bolos sampai hamil di luar nikah. Jika demikian bagai mana
dengan peran pemuda sebagai penerus bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar