Minggu, 08 Maret 2015

MORAL INDONESIA TERGADAIKAN




“MORAL INDONESIA TERGADAIKAN”

Dari segi politik indonesia memiliki dasar negara, UUD, dan sistem pemerintahan yang baik. Tapi sayang dalam penerapanya banyak kecurangan-kecurangan yang menyebabkan cacat bahkan hancurnya hukum negara ini. Sedang peran hukum adalah suatu yang penting untuk mengatur suatu rangkaian kekuasaan, berarti hukum juga sebagai perantara utama dalam hubungan sosial masyarakat. Dan jika hukum dalam negara itu cacat atau malah hancur maka, hancur pula keadilan dalam jembatan antar hubungan sosial masyarakat suatu negara tersebut. Jika hal seperti ini tidak segera di tindak lanjuti maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan juga bisa hilang. Ironinya para pemuda yang diharapkan dapat mendobrak ketidak adilan itu hanya diam dan acuh tak acuh melihat keadaan bangsanya yang seperti ini.
Di dalam politik itu sendiri sebagai pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang khususnya dalam proses pembuatan keputusan, pemuda sangatlah dibutuhkan. Dalam pemilu saja Sebagaimana yang dijabarkan dalam UUD 1945 Pasal 22E ayat 2, “Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.” Sebagai contoh, jika ada sepuluh saja pemuda yang tidak turut serta dalam pemilihan umum, sama artinya dengan membuka peluang sekian persen untuk dipimpin oleh politisi yang tidak di inginkan selama ini. Lalu bagai mana jika lebih dari sepuluh pemuda yang golput sedang pemuda sebagai jembatan perbaikannya tak melirik bangsanya.
Yang diharapkan bangsa adalah  pemuda yang peduli terhadap bangsanya. Berbalik dengan kondisi saat ini jika pemuda yang mahu tak mahu harus menjadi pengganti pemerintahan seperti ini, bagai mana nasib bangsa kita selanjutnya. Dari sekian banyak pemuda Indonesia sebagian besarnya memilih nongkrong, facebook-an, nge-game bahkan pacaran dari pada nonton berita atau ikut organisasi. Dengan Parlemen yang sekarang ruwet akan semakin runyam jika pemudanya hanya di jadikan pajangan saja tanpa pembinaan bahkan perhatian pemerintah.
Pemuda memang suatu komponen penting bagi negara yang ingin maju dan berkembang. Karena pemudalah yang dapat mereformasi pemerintahan yang saat ini dalam keadaan kronis. Tapi pada kenyataannya pemuda yang di eluh-eluhkan dapat merubah keadaan negara ini tidak dapat bangkit dan terperangkap dalam keringnya moralitas bangsa. Yang harusnya merekalah yang mengukuhkan keadilan bangsa malah larut dalam globalisasi dan mengabaikan pancasila sebagai dasar negara. Banyak kasus-kasus yang miris tentang pemuda, entah itu narkoba, premanisme, perkosaan, psk berseragam, dan masih banyak lagi penyimpangan sosial yang dihadapi pemuda Indonesia. Pemerintah harusnya dapat berkaca dan melihat betapa  terpuruknya moral bangsa ini. Tapi naasnya pemeritah sedang sibuk minta kenaikan gaji, sampai-sampai tak melihat moral bangsa yang sedang sekarat.
Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan pemuda sebagai penerusnya jangan hanya memutar-mutar kasus korupsi dan bermain uang di persidangan saja. Jika memang negara bersikap waspada, waspadalah pada pemuda yang sekarang kekurangan rasa peduli kepada bangsanya, kurangnya rasa bela negara,dan krisis moral yang telah menggerogoti bangsa. Lalu bagaimana jika kelak pemerintahan dipimpin pemuda yang demikian, yang sekarang tak acuh terhadap nasib rakyat akan semakin tak acuh bahkan bisa saja meninggalkan rakyat. Rakyat tidak butuh dengan janji-janji palsu pemerintah. Yang diharapkan hanya kepedulian terhadap rakyat terutama bobroknya moral yang kian terpuruk.
Jika memang pemuda adalah penerus negara yang di butuhkan khususnya dalam perpolitikan, pemerintah harusnya menaruh perhatian lebih. Pada jaman yang serba tegnologi ini Indonesia tidak malah maju tetapi malah semakin terpuruk. Yang harusnya menjadi lebih faham hukum sekarang lebih cenderung ke pelanggar hukum. Bukan hanya rakyat bahkan pemerintah sebagai contoh dan teladan turut mendaftar sebagai pelanggar hukum. Sedang pemerintah sekarang kebanyakan mementingkan kepentingan individu dari pada sosial. Akhirnya peluang untuk menciptakan pemuda yang mampu merintis lahirnya budaya politik baru dan perilaku politik yang lebih santun agaklah sulit. Yang bisa menciptakan hal demikian haruslah dilakukan dengan suatu landasan pendidikan yang baik dengan pemahaman dan penerapan yang baik pula. Sedang pendidikan yang saat ini lebih menuntut teori atau ujian tertulis, membuat tidak seimbangnya antara diatas kertas dengan kenyataan atau penerapannya.
Fungsi pelajaran bela negara sekarang ini juga sangat minim, siswa hanya berlomba-lomba mencari nilai dari pada ilmu yang harusnya berguna bagi pemerintahannya kelak. Sedang banyak di luar sana pemuda-pemuda yang tak bersekolah. Yang seperti ini menginginkan kemajuan politik ekonomi, pendidikan  saja hanya bisa duduk di posisi bawah. Sementara itu sebab yang paling kecil yaitu pendidikan tidak begitu di perhatikan, dari pihak pemerintah hanya menaikan standar kelulusan tanpa melihat SDM yang jauh tertinggal. Dalam prakteknya saja sekolah bagiakan sebuah tuntutan. Akibatnya banyak kasus putus sekolah yang disebabkan pergaulan bebas, entah itu bolos sampai hamil di luar nikah. Jika demikian bagai mana dengan peran pemuda sebagai penerus bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar