Inilah yang aku pikirkan. Bangsa
ini dan 360 tahun adalah alasan yang mendasar dalam mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Pengorbanan para pahlawan dan penderitaan rakyat
Indonesia di masa lampau menjadi cambuk tersendiri agar kita sebagai hasil dari
pengorbanan tersebut terus maju dan mempertahankan kedaulatan. Bukan lagi dengan
berperang namun dengan mengembangkan pengetahuan dan kemandirian bangsa dalam
mengelola Negara. Dalam langkah kecil setidaknya setiap warga Negara mengetahui
budaya bangsanya dan mencintai produk dalam negeri.
Bangsa
Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keragaman suku, ras, dan agama.
Bangsa yang majemuk dengan banyak potensi, kekayaan budaya dan kemungkinan
konflik yang bisa saja terjadi. Sejak jaman sebelum orde lama para pemimpin
kita pastinya telah memikirkan potensi dan resiko dari kemajemukan tersebut.
Dari awal itulah dengan proses berfikir dan penyatuan pendapat yang cukup panjang
dihasilkan pilar – pilar bangsa diantaranya Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa kita. Sebagai generasi Reformasi sudah
seyogyanya kita bersyukur akan adanya dasar – dasar bernegara yang telah ada.
Karena saat ini kita telah memiliki pedoman bernegara dan hanya selangkah untuk
menerapkan apa yang telah ada. Namun pada prakteknya bangsa Indonesia saat ini
perlahan mulai menjauh dari nilai – nilai dan norma luhur bangsanya. Sikap
individual dan ketidak pedulian akibat tehknologi komunikasi yang berkembang
pesat membuat sebagian besar orang lupa akan nilai dalam dasar negaranya.
Bahkan parahnya masih ada yang tidak hafal akan dasar negaranya sendiri. Dalam
hal ini merupakan cerminan bahwa empat pilar bangsa sudah mulai tergeser oleh
era global dan tidak lagi menjadi filter dalam berbangsa dan bernegara. Bahaya
ini bukan perkara kecil mengingat dari perkara inilah dapat timbul perpecahan
bangsa. Nilai – nilai pancasila yang pada dasarnya adalah kristalisasi dari
pribadi Bangsa Indonesia menjadi rancu dengan pribadi Bangsa Indonesia saat
ini. UUD Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional juga mulai terabaikan
dengan maraknya pelanggaran – pelanggaran hukum dan HAM yang notabene bukan
hanya rakyat sipil namun juga pejabat pemerintahan. Yang dari kasus – kasus
tersebut secara tidak langsung menjadi ancaman tersendiri akan keutuhan NKRI
dan diragukannya semboyan Bhineka Tunggal Ika. Karena utamanya dalam
mempertahankan suatu bangsa bukan hanya dari segi pertahanan militer namun juga
pertahanan terhadap komitmen bangsa itu sendiri dalam menjaga kepribadian dan budaya
bangsanya. Maka dari itu pertahanan yang paling penting dan pertama harus
dibangun adalah pertahanan pendidikan yang mana pilar – pilar bangsa dididikkan
sejak dini hingga tertanam rasa cinta tanah air dan bangga terhadap kekayaan
dan kebinekaan bangsanya.
Langkah
yang perlu dilakuakan untuk menghadapi era globalisasi
a. Memperbaiki
pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini bukan hanya infrastruktur dan kurikulum
namun juga kualitas pengajar yang perlu ditingkatkan. Utamanya kualitas guru
Seni Budaya, guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan guru Sejarah yang mana tiga
guru mata pelajaran tersebut merupakan pengampu sebagian besar pengetahuan
tentang budaya, bangsa, dan negaranya.
b. Memikirkan
benar – benar output apa yang akan lahir dari jutaan pemuda Indonesia dan
membuat wadah sebanyak – banyaknya dalam kegiatan pemuda dan pendidikan agar
tercapainya output yang diharapkan. Karena tidak dipungkiri pemuda merupakan
penerus bangsa ini yang perlu dipersiapkan dengan matang dan terencana.
c. Kembangkan
ekonomi kreatif yang berbasis budaya. Ekonomi merupakan sumber penghidupan
Negara yang sangat krusial dan budaya merupakan suatu yang potensial untuk
dikembangkan oleh bangsa yang kaya budaya. Jika kita dapat mengamati bangsa ini
merupaka bangsa yang besar akan seni dan budayanya. Kreatifitas bangsa
terdahulu kita sudah tidak dipungkiri lagi, terbukti dari keragaman warisan
budaya yang luar biasa. Hal ini harusnya menjadi lahan yang menguntungkan dalam
mengembangkan ekonomi. Bangsa asing yang notabene telah tertarik akan keragaman
budaya kita bisa jadi mendatangkan keuntungan ekonomi lewat kunjungannya
terlebih jika ada produk kreatif yang inovatif.
Membudayakan musyawarah yang solusional
dengan befikir secara terarah dan terencana dengan
- Melaksanakan
tertib administrasi dan perencanaan jangka panjang
- Melakukan
analisis terhadap sasaran sebelum membuat perencanaan
- Membiasakan
berfikir positif dan inisiatif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar